Senin, 10 Mei 2010

makalah Tafsir

        •         
36. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Penafsiran
Tuntuna di atas merupakan tuntunan universal. Nurani manusia di mana dan kapanpun pasti menilainya baik dan menilai lawannya merupakan sesuatu yang buruk, enggan diterima oleh siapapun. Karena itu dengan menggunakan bentuk tunggal agar mencakup setiap orang sebagaimana niliai-nilai di atas diakui oleh nurani setiap orang, ayat ini memerintahkan: lakukan apa-apa yang telah Allah perintahkan di atas dan hindari apa yang tidak sejalan dengannya dan janganlah engkau mengikuti apa-apa yang tiada bagimu pengetahuan tentangnya . jangan berucap apa yang engkau tidak ketahui, jangan mengaku tahu apa yang engkau tidak tahu dan mengaku mendengar apa yang engkau tidak dengar. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati yang merupakan alat-alat pngetahuan semua itu, yakni alat-alat itu masng-masing tentangnya akan ditanyai tentang bagaimana pemiliknya menggunakannya atau pemiliknya akan dituntut mempertanggungjawabkan bagaimana dia menggunakannya.
Dari satu sisi tuntunan ayat ini mencegah sekian banyak keburukan, seperti tuduhan, sangkaburuk, kebohongan dan kesaksian palsu. Di sisi lain ia member tuntunan untuk menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati sebagai alat-alat untuk meraih pengetahuan.
Sayyid Qutb berkomentar bahwa ayat ini dengan kalimat-kalimatnya yang sedemikian sngkat telah menegakkan suatu sistem yang senpurna bagi hati dan akal, menmcakup metode ilmiah yang baru saja dikenal oleh umat manusia, bahkan ayat ini menambah sesuatu yang berkaitan dengan hati manusia dan pengawasan Allah SWT.. Tambahan dan penekanan ini merupakan keistimewaan Islam disbanding dengan metode-metode penggunaan nalar yang dikenal selama ini dan yang sangat gersang itu.
Kehati-hatian dan upaya pembuktian terhadap semua cerita, semua fenomena, semua gerak, sebelum memutuskan. Itulah ajakan Al-Qur’an telah menetapkan metode yang sangat teliti dari ajaran Islam. Apabila akal dan hati telah konsisten menerapkan metode ini, maka tidak aka nada lagi tempat bagi waham dan kufarat dalam akidah, tidak ada juga wadah bagi dugaan dan perkiraan dalam bidang ketetapan hukum dan interaksi, tidak juga hipotesa atau perkiraan yang rapuh dalam bidang penelitian, eksperimen dan ilmu pengetahuan.
Amanah Ilmiyah yang didengungkan di abad modern ini, tidak lain kecuali sebagian dari amanah aqliyah dan qalbiyah yang dikumandangkan tanggungjawabnya oleh Al-Qur’an yang mengatakan bahwa manusia bertanggungjawab terhadap kerja pendengaran, penglihatan dan hatinya, dan bertanggungjawab kepada Allah SWT. yang menganugerahkan pendengaran, penglihatan dan hati. Demikian lebih kurang Sayyid Qutb.
Ayat ini menegaskan bahwa manusia pun akandituntut mempertanggungjawabkan kerja al-fuad / haitnya. Para ‘Ulama’ menggarisbawahi bvahwa apa-apa yang tersirat dalam hati, bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada yang dinamai ( ) hajis yaitu sesuatu yang terlintas dalam pikiran secara spontan dan hilang seketika. Selanjutnya, ( ) khathir, yakni yang terlintas sejenak kemudian terhenti, tingkat ketiga adalah apa yang dinamai ( ) hadits nafs, yakni bisikan-biskan hati yang dari saat ke saat muncul dan bergejolak. Peringkat yang lebih tinggi adalah ( ) hamm, yaitu kehendak melakukan sesuatu sambil memikirkan cara-cara pencapaiannya, dan yang terakhir sebelum melangkah mewujudkan kegiatan adalah ( ) ‘azm, yakni kebulatan tekad setelah rampungnya seluruh proses hamm dan dimul;ainya langkah awal bagi pelaksanaan.
Yang dihitung kelak adalah ‘azm itu, sedang semua yang ada dalam hati dan belum mencapai tingkat ‘azm ditoleransi oleh Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar